Stunting adalah balita stunted (perawakan pendek) dengan panjang/tinggi badan menurut usia di bawah -2SD yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronik atau berulang. Menurut SSGI, angka prevalensi stunting di Indonesia sudah berhasil menurun dari 24,4% di tahun 2021 menjadi 21,6% di tahun 2022 kemudian menjadi 21,5% di tahun 2023. Namun dengan demikian tidak menjadi target angka stunting terpenuhi, karena Standar WHO prevalensi stunting haruslah di angka <20%

Untuk menurunkan angka stunting agar segera mencapai target, pada Hari Rabu, 18 September 2024 bertempat di Ruang Pertemuan CSSD Lantai 2, dilakukan pertemuan dan evaluasi kegiatan dalam rangka penurunan stunting oleh RSUD Ploso dengan mengundang dokter dan ahli gizi di puskemas jejaring RSUD Ploso diantaranya Puskesmas Plandaan, Puskesmas Bawangan, Puskesmas Keboan, Puskesmas Tapen, Puskesmas Tembelang, Dan Puskesmas Kabuh.

Acara dilaksankana dengan pembukaan, dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh dr. Erwina Mei Astuti, Sp.A. menurut dr. Erwina Mei Astuti, Sp.A, situasi stunting di wilayah puskesmas jejaring paling banyak berada di Kecamatan Ploso yakni sebesar 23%, sedangkan kecamatan dengan angka stunting paling rendah ialah Kecamatan Ngusikan sebesar 2%. Namun hal tersebut masih bisa ditingkatkan dengan cara pencegahan stunting yang dipaparkan oleh dr. Erwina Mei Astuti, Sp.A seperti pemberian ASI eksklusif, KMC (Kangaroo Mother Care), Posyandu, dan MPASI. (26/9/24)-dsk